Panduan Manasik Haji – Bagian Ketiga

Bagikan :

3. Berakhlak Mulia

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَكْمَلُ اَلْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Orang beriman yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya.”

[HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

Hadits di atas bersifat global, mengingatkan kita tentang pentingnya akhlak mulia serta kedudukan dan pengaruhnya terhadap keimanan seseorang. Terkhusus dalam perjalanan safar saat kita bersama rombongan, akhlak mulia ini sangat patut untuk diamalkan.

Akhlak mulia itu banyak dan beragam, secara ringkas di antaranya adalah bertutur kata yang baik, rendah hati, tidak ujub atau bangga diri, peduli terhadap kebutuhan teman dan meringankan bebannya, sedekah dan saling memberi hadiah, mudah memaafkan kesalahan dan kealpaan teman, sikap lembut dan tidak mudah emosi, menghargai kebaikan saudaranya, dan lain-lain.

4. Menghiasi perjalanan dengan berbagai ibadah dan amal shalih

Sudah semestinya seorang musafir banyak mengisi waktunya dengan berbagai ibadah dan amal ketaatan, terutama ibadah-ibadah wajib, kemudian yang bersifat mustahab, seperti tilawatul Qur’an, istighfar, tasbih, tahmid, bershalawat, dan berbagai bentuk dzikir dan doa yang disyariatkan. Hendaknya semua itu benar-benar menghiasi perjalanan safar kita.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadits Qudsi, “Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا، فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَلَئِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ.

“Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku telah mengumumkan perang terhadapnya. Tidaklah ada hamba-Ku yang mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amal ibadah yang lebih Aku cintai daripada amal ibadah yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk bertindak (melakukan sesuatu), dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, pasti Aku akan memberinya. Dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, pasti Aku akan melindunginya.”

[HR. al-Bukhari]

5. Menghindari berbagai bentuk maksiat

6. Menegakkan nasihat dan amar makruf nahi mungkar

Hendaknya nasihat ini dilakukan dengan cara yang hikmah dan mengedepankan kelembutan, tidak dengan cara yang kasar, dan -yang tidak kalah pentingnya- adalah semua nasihat tersebut harus dilakukan di atas dasar ilmu.

Loading

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *