Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,
إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَآ أَنزَلْنَا مِنَ ٱلْبَيِّنَٰتِ وَٱلْهُدَىٰ مِنۢ بَعْدِ مَا بَيَّنَّٰهُ لِلنَّاسِ فِى ٱلْكِتَٰبِ ۙ أُو۟لَٰٓئِكَ يَلْعَنُهُمُ ٱللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ ٱللَّٰعِنُون
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati.” (QS. al-Baqarah: 159)
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata,
نحن نری اﻷخطاء ونسكت، ونترك الناس يهيمون؟ لا، هذا ما يجوز أبدا، يجب أن نبين الحق من الباطل، رضي من رضي، وسخط من سخط
Kita melihat berbagai kesalahan, lalu kita diam dan membiarkan manusia bingung tidak memiliki pendirian?
Tidak, sikap seperti ini tidak boleh selamanya. Kita wajib menjelaskan yang benar dari kebatilan yang ada. Akan ridha orang-orang yang ridha, dan akan marah pula orang-orang yang marah.”
[Al-Ajwibah al-Mufidah, hal. 238]
![]()
Sangatlah bermanfaat untuk perbendaharaan ilmu