Manhajul Anbiya’ fi ad-Da’wah ilallah fihi al-Hikmah wal ‘Aql, merupakan kitab karya asy-Syaikh al-Muhaddits Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah. Kitab ini menjelaskan tentang prinsip, jalan, dan metode yang ditempuh oleh para nabi dalam dakwah mereka. Di tengah beragamnya kelompok pergerakan dengan metode dakwahnya masing-masing, kitab ini layak sebagai rujukan, untuk diketahui bagaimana sejatinya metode dan jalan dakwah yang benar, yaitu jalan para nabi, yang diutus untuk mengemban dakwah yang mulia ini. Dengan meniti jalan merekalah, kejayaan umat akan tergapai dan kebahagiaan di akhirat akan diraih, bi idznillahi Ta’ala.
Insya Allah karya beliau tersebut akan kami tampilkan terjemahannya secara berseri. Semoga Allah Subhanahu Wata’ala memberikan taufik dan pertolongan-Nya.
MUQADDIMAH CETAKAN PERTAMA
Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah Subhanahu Wata’ala, kita memuji-Nya, meminta pertolongan, dan memohon ampun kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu Wata’ala dari segala keburukan jiwa dan kejelekan amal perbuatan kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah Subhanahu Wata’ala, maka tidak ada yang mampu menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah Subhanahu Wata’ala sesatkan, maka tidak ada yang mampu memberikan petunjuk.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah Subhanahu Wata’ala semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi pula bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang hamba dan utusan (Rasul)-Nya. Dia mengutus beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa hidayah (petunjuk) dan agama yang benar, agar Allah memenangkannya atas semua agama, sekalipun orang-orang kafir membencinya.
Adapun setelah itu, sesungguhnya yang menjadi faktor pendorong untuk memilih topik pembahasan ini[1] adalah beberapa hal, di antaranya yang terpenting adalah:
Pertama:
Bahwa umat Islam telah berada pada arah kehidupan dan jalan yang berbeda-beda, baik dalam perkara akidah maupun yang lainnya. Sehingga, turunlah malapetaka akibat dari perpecahan dan perbedaan tersebut, juga karena akibat tidak berhukum dengan kitab Rabb mereka dan sunnah Nabi-Nya dalam mengatur permasalahan-permasalahan yang diperselisihkan itu.
Tidak ada yang mengetahui ujung pangkal dan seberapa besar kerugian yang ditimbulkan darinya kecuali Allah Subhanahu Wata’ala, berupa tercabiknya barisan umat Islam, serta semakin berkobarnya api perselisihan dan persengketaan di antara mereka. Kemudian musuh-musuh Islam pun berhasil menaklukkan negeri mereka, menjatuhkan kehormatan, memperbudak, dan menghinakan mereka.
Kedua:
Terjadi dan munculnya perkembangan pemikiran-pemikiran di medan dakwah Islam dengan berbagai macam metode dan manhaj yang berbeda, dengan maksud untuk memperbaiki serta menyelamatkan keadaan umat. Di antara pemikiran-pemikiran tersebut adalah aliran yang berhaluan politik, berhaluan intelektualisme, dan ada yang berhaluan kebatinan.
Masing-masing dari setiap pencetus pemikiran tersebut mengklaim pemikirannya adalah manhaj dan prinsip Islam yang benar, yang wajib untuk diikuti, dan umat tidak bisa terselamatkan oleh selain manhajnya.
Dua sebab inilah, di samping sebab lainnya, yang menjadi faktor pendorong saya untuk bangkit menunaikan satu kewajiban di antara kewajiban terbesar dan terpenting, yaitu menjelaskan manhaj para Nabi ‘alaihimussalam dalam berdakwah kepada agama Allah Subhanahu Wata’ala menurut petunjuk Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya, menjelaskan pula akan keistimewaan manhaj yang tidak ada bandingannya tersebut, serta menjelaskan akan pentingnya mengikuti manhaj ini semata, karena manhaj ini merupakan satu-satunya jalan yang dapat mengantarkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan meraih ridha-Nya. Manhaj ini pula merupakan jalan satu-satunya untuk menyelamatkan dan mengantarkan umat kepada kejayaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.
Dan setelah itu, sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala al-Khaliq (Yang Menciptakan), al-Bari (Yang Mengadakan), al-Mushawwir (Yang Membentuk rupa), al-‘Alim (Yang Mengetahui), dan al-Hakim (Yang Maha Bijaksana) telah menciptakan alam semesta yang besar ini, sekaligus Dialah yang mengatur dan menyusunnya dengan ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu, dengan hikmah-Nya yang sempurna, serta kekuasaan-Nya yang menyeluruh. Dia menciptakan semuanya untuk hikmah dan tujuan yang baik nan mulia, jauh dari kesia-siaan, kebatilan, serta permainan. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,
وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ (38) مَا خَلَقْنَاهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (39)
“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.“ (QS. ad-Dukhan: 38-39)
Allah Ta’ala juga berfirman,
حم (1) تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ (2) مَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنْذِرُوا مُعْرِضُونَ (3)
“Haa Miim. Diturunkan Kitab ini dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka.” (QS. al-Ahqaf: 1-3)
Allah Subhanahu Wata’ala menciptakan jin dan manusia, serta telah menjelaskan pula hikmah yang agung dan tujuan mulia dari penciptaan mereka itu.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (57) إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ (58)
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.“ (QS. adz-Dzariyat: 56-58)
Allah Ta’ala juga berfirman,
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ (115) فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ (116)
“Maka apakah kalian mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kalian secara main-main (saja), dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada yang berhak diibadahi selain Dia, Rabb (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.“ (QS. al-Mu’minun: 115-116)
Allah Ta’ala juga berfirman,
أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى (36)
“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?“ (QS. al-Qiyamah: 36)
Yakni maksudnya apakah manusia tidak diperintah dan tidak pula dilarang?
Allah Ta’ala juga berfirman,
تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (1) الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ (2)
“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. al-Mulk: 1-2)
Allah Ta’ala mengabarkan bahwa tidaklah Dia menciptakan jin dan manusia kecuali untuk suatu ujian, agar jelas siapa di antara mereka yang paling baik amalannya, yaitu dengan ketundukan terhadap manhaj (jalan agama) Allah dan mengikuti para Rasul Allah.
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (21) الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (22)
“Hai manusia, beribadahlah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untuk kalian; karena itu janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui.“ (QS. al-Baqarah: 21-22)
Allah Subhanahu Wata’ala memerintahkan manusia untuk menegakkan amalan yang menjadi tujuan mereka diciptakan (yaitu beribadah kepada-Nya).
Allah Subhanahu Wata’ala juga telah menjelaskan kepada mereka bahwa Dia telah mencukupi serta menyiapkan berbagai sarana dan sebab-sebab yang dapat membantu mereka dalam menunaikan kewajiban yang agung itu. Allah Subhanahu Wata’ala juga memperingatkan mereka dari perbuatan menyimpang yang menyelisihi tujuan tersebut serta perbuatan ingkar terhadap nikmat yang mulia ini.
فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Karena itu janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui.“ (QS. al-Baqarah: 22)
Allah Ta’ala juga berfirman,
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آَدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا (70)
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.“ (QS. al-Isra’: 70)
Tidaklah Allah Subhanahu Wata’ala memuliakan manusia dengan kemuliaan ini, dan menempatkan mereka pada kedudukan yang tinggi, melainkan karena agungnya tujuan penciptaan mereka, yaitu beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala semata, mengagungkan-Nya, menyucikan-Nya dari segala kekurangan serta dari perbuatan menjadikan sekutu dan tandingan bagi-Nya. Maha Tinggi Allah dari segala perbuatan tersebut.
Banyak sekali Allah Subhanahu Wata’ala menyebutkan kemuliaan manusia dan kedudukannya di alam ini. Sesungguhnya alam ini telah ditundukkan demi kesenangan dan kebahagiaan manusia, agar mereka dapat menunaikan dan melaksanakan tugas yang menjadi tujuan mereka diciptakan itu, dengan pelaksanaan yang seoptimal dan sesempurna mungkin.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,
قُلْ لِعِبَادِيَ الَّذِينَ آَمَنُوا يُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خِلَالٌ (31) اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْأَنْهَارَ (32) وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَائِبَيْنِ وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ (33) وَآَتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ (34)
“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: “Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada bari itu tidak ada jual beli dan persahabatan Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untuk kalian; dan Dia telah menundukkan bahtera bagi kalian supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagi kalian sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagi kalian matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagi kalian malam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepada kalian (keperluan kalian) dan segala apa yang kalian mohonkan kepadanya. Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kalian menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).“ (QS. Ibrahim: 31-34)
Diterjemahkan dari: Manhajul Anbiya’ fi ad-Da’wah ilallah fihi al-Hikmah wal ‘Aql, hal. 28-31
[1] Yaitu pembahasan tentang manhaj (jalan yang ditempuh) oleh para nabi ‘alaihimussalam dan metode mereka dalam berdakwah di jalan Allah Subhanahu Wata’ala.

Bismillah
Moga Alloh tetap menjaga dan memberi kebaikan kepada Ustadz dan keluarga…
Afwan Tadz
Mohon dijelaskan mengenai Milisi Thaliban yg sudah menguasai Afghanistan sejak ahad 6 Muharam 1443H kemarin. Dan bagaimana sikap salafiyyin dan muslimin yg pro pemerintah Afghanistan, apakah wajib taat kepada milisi Thaliban yg telah berkuasa?
Mohon penjelasan juga, apakah setelah wafatnya syaikh Jamilurrahman, adakah ulama salaf pengganti beliau fi sana?
Atas faedahnya, saya ucapkan jazakallohu khairan, barokallohu fiek…
Sampai hari ini, saya belum mengetahui ada ulama kibar yang berbicara tentangnya setelah peristiwa terakhir yang terjadi. Maka, sebaiknya kita menunggu bimbingan ulama kibar dalam hal ini.
Adapun setelah wafatnya Syaikh Jamilurrahman rahimahullah, saya juga belum mengetahui apakah ada ulama salaf di sana.
Wallahu a’lam.