Allah ‘Azza Wajalla berfirman,
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. an-Nisa’: 48)
Dari ayat ini, nampak jelas menunjukkan bahwa syirik merupakan dosa yang paling besar. Hal ini karena Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia tidak akan mengampuni dosa syirik bagi yang belum bertaubat darinya.
Adapun dosa selain syirik, maka pelakunya di bawah kehendak Allah. Bila Allah berkehendak, ia akan diampuni ketika berjumpa dengan-Nya nanti. Dan bila Allah berkehendak, Allah akan adzab dia.
Yang demikian itu mengharuskan seorang hamba untuk merasa sangat takut dan khawatir terjerumus ke dalam perbuatan syirik, sebuah dosa yang demikian itu keadaannya di sisi Allah (pelakunya tidak diampuni kalau belum bertaubat).
Nabi Ibrahim ‘alaihish shalatu wassalam, sosok bapak para nabi dan kekasih ar-Rahman, mengatakan (sebagaimana Allah sebutkan dalam al-Qur’an,
وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ (35) رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ ۖ فَمَن تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي ۖ وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ (36)
“Jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala. Wahai Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia; maka barang siapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku; dan barang siapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ibrahim: 35-36)
Beliau ‘alaihissalam mengetahui bahwa akan datang di tengah-tengah keturunannya nanti para nabi yang banyak. Walaupun demikian, beliau takut dan mengkhawatirkan diri beliau serta anak keturunannya terjatuh ke dalam perbuatan syirik. Jika demikian, bagaimana kita bisa merasa aman terhadap diri-diri kita?
يا مقلب القلوب ثبّت قلوبنا على دينك
“Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, kokohkanlah hati-hati kami di atas agama-Mu.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa seperti ini, dan mengajari para sahabatnya untuk berdoa seperti ini juga.
Sekarang kita, seolah-olah kita memiliki jaminan untuk tidak terjatuh ke dalam perbuatan syirik maupun penyakit kemunafikan.
نسأل الله السلامة والعافية
(Fathul Majid, hal. 91. Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan alu asy-Syaikh rahimahullah)
(Al-Washaya al-Manhajiyyah, hal. 438. Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah)
